<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Al-Mubaarakah</title>
	<atom:link href="http://almubaarakah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://almubaarakah.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 11:44:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='almubaarakah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9d585cb021d1047ab77c01650302c4e6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Al-Mubaarakah</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://almubaarakah.wordpress.com/osd.xml" title="Al-Mubaarakah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://almubaarakah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MLM (Multi Level Marketing) Menurut Islam</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2011/01/22/mlm-multi-level-marketing-menurut-islam/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2011/01/22/mlm-multi-level-marketing-menurut-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 06:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Jual Beli System Piramid]]></category>
		<category><![CDATA[beda makelar dengan anggota mlm]]></category>
		<category><![CDATA[haramnya mlm]]></category>
		<category><![CDATA[hukum muamalah system piramid]]></category>
		<category><![CDATA[mlm islami ???]]></category>
		<category><![CDATA[mlm menurut islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[JUAL BELI SYSTEM PIRAMIDA / MLM Perlu kita ketahui bersama, jual beli dengan system piramida baik dinamai dengan MLM atau yang lainnya adalah system yang datang atau di adopsi dari barat / kafir. Akibat ketamakan terhadap dunia, mereka memeras otak untuk menemukan jalan pintas dan paling gampang dalam meraih  pundi-pundi dunia dalam waktu sesingkat-singkatnya tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=335&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">JUAL BELI SYSTEM PIRAMIDA / MLM</span></h3>
<p style="text-align:justify;">Perlu kita ketahui bersama, jual beli dengan system piramida baik dinamai dengan MLM atau yang lainnya adalah system yang datang atau di adopsi dari barat / kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibat ketamakan terhadap dunia, mereka memeras otak untuk menemukan jalan pintas dan paling gampang dalam meraih  pundi-pundi dunia dalam waktu sesingkat-singkatnya tanpa menghiraukan halal haram.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ternyata setelah orang-orang yang paling berakal dari mereka mengetahui hakekat system piramid ini yang ternyata banyak hal yang merugikan<strong> </strong>merekapun melarangnya padahal mereka pada dasarnya menghalalkan riba dan judi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sini saja kita sudah dapat meraba hakekat jual beli system piramid ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara dienul islam ini adalah agama yang paling adil dan paling baik dalam menebar kemashlahatan, tidak ada satu kebaikan dan kemashlahatan yang dominan melainkan diperntahkan olehnya, dan tidak ada satupun kejahatan dan kerusakan yang dominan melainkan dilarangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambaran awal dari system ini sangatlah mudah dan gampang serta gamblang, namun diakhir hayatnya menjadi sangat ruwet dan kacau, di sini saya akan mencoba memberikan gambaran transaksi yang ada di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bermula dari anda menyetorkan-(kita pake istilah ini saja)-sejumlah uang kepada BEJO (wong njowo) dengan dalih -(kalo boleh disebut begini)- untuk membeli barang-(jenis barangnya terserah, ga begitu penting koq yang penting nilai bisnisnya, katanya&#8230;) atau beli produk atau uang pendaftaran atau apapun istilahnya terserah, dan penyetoran pertama ini bersifat wajib atau fardhu ‘ain (maaf pinjam istilah yang baik) dengan harapan dari modal pokok tadi mengalir / membanjir dengan cepat keuntungan berlipat-lipat, namun ingat !!! datangnya keuntungan anda berasal dari <strong><em>percikan salju</em></strong> uang PAIJO yang diserahkan kepada BEJO -( mungkin percikan terlalu basah, sebab yang diberikan ke anda itu tidak ada sekuku hitamnya BEJO, bagaimana tidak, <em><strong>misalkan saja</strong></em> barang itu seharga 6jt, dan anda baru berhak menuai hasil jika telah bercabang dua kanan kiri dan masing-masing cabang beranting tiga, jadi total 6 anggota, 6jtx6=36jt  plus punya anda sendiri, anda diciprati berapa prosen..??? silahkan bertanya dengan yang bersangkutan)- dan si PAIJO mendapat keuntungan dari ‘percikan’ setoran PAIMIN ke BEJO, PAIMIN mendapat keuntungan dari ‘percikan’ setoran RAKIM ke BEJO, dan begitulah sampai hayatnya berakhir, dan pasti berakhir, kapan ? Tentu setelah bangunan piramid itu runtuh dan memakan banyak korban, mungkin bukan anda yang menjadi korban tetapi sekian banyak anggota yang berada dibawah sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah, penghasilan orang pertama dari setoran orang kedua dan penghasilan orang kedua dari setoran orang ketiga dan seterusnya, dari sini saja orang yang berakal sudah dapat mencermati kejelekan system ini, sebab yang terakhir atau yang belakangan selalu dirugikan dan tidak beruntung kecuali ada yang mengikutinya sesuai dengan system yang berlaku.</p>
<p style="text-align:justify;">HUKUM JUAL BELI SYSTEM PIRAMIDA</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum islam terhadap jual beli system ini adalah <strong>‘haram’ </strong>dengan beberapa sebab:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Makan harta saudaranya dengan cara yang bathil.</p>
<p style="text-align:justify;">Letaknya dimana..?? Jawab: “ Ketika system ini tidak mungkin berjalan tanpa cabang dibawahnya, dan cabang-cabang itu menjadi pihak yang dirugikan demi keuntungan yang diatas, setiap cabang yang menginginkan keuntungan harus berdusta atau paling tidak membual dengan iming-iming hasil besar dalam waktu singkat kepada cabang dibawahnya, dan cabang yang paling bawah selalu menjadi yang dirugikan jika membeli barang dan tidak mendapat pengikut dan ini pasti terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ ) </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” (An Nisa:29)</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">2. Jual beli ‘Ghoror’ (tidak jelas hasilnya dan yang orang yang masuk padanya antara untung dan rugi).</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jual beli seperti ini disepakati keharamannya oelh para ulama, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari hadits Abu Hurairah:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(نهى عن بيع الغرر)</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“beliau melarang jual beli ghoror”.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hikmah pelarangan bai’ul ghoror : “</strong>Karena dapat mengakibatkan kefaqiran dan kekayaan dalam waktu singkat”. Lihatlah betapa agungnya syariat islam&#8230;!</p>
<p style="text-align:justify;">3. Jual beli yang mengandung penyamaran dan tipuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya..??? Jual beli ini seolah-olah memperdagangkan suatu barang (biasanya yang antik-antik atau yang aneh-aneh pokoknya yang ‘ajib lah&#8230;), padahal  tujuan intinya bukan itu melainkan menggaet anggota sebanyak-banyaknya, dengan itu dia berhak mandi komisi, dan pada umumnya hanya sebagian kecil yang mendapatkannya, ini penipuan yang nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>( من غش فليس مني )</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“</strong><strong>barangsiapa menipu maka bukan dari golonganku</strong><strong>”</strong><strong> ( HR. Muslim)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">4. Di bangun diatas perjudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dimana itu ??? Disini: “Anggota menyerahkan sejumlah uang dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang yang lebih besar atau justru menderita kerugian, segala sesuatu yang mengandung unsur untung dan rugi itulah hakikat ‘perjudian’.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا </strong><strong>الْخَمْر</strong><strong>ُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</strong><strong> </strong><strong>، إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي </strong><strong>الْخَمْر</strong><strong>ِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ<em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.</em></strong><strong><em>Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu</em></strong>).” (Al Maidah:90-91)<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Faedah:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan antara makelar yang diperbolehkan dan makelar ala anggota mlm:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Makelar adalah perantara kepada suatu barang atau manfaat dari suatu barang yang pada akhirnya mendapatkan seseorang yang benar-benar membeli atau memanfaatkan barang tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun anggota mlm dasar tujuannya adalah mencari anggota yang dapat mengembangkan jaringan.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Makelar tidak disyaratkan membeli atau tepatnya menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik barang.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun anggota mlm harus membayar atau menyerahkan sejumlah uang sebagai syarat mutlak.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Makelar bersungguh-sungguh mencari orang yang sangat butuh kepada barang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara anggota mlm sangat bersungguh-sungguh dalam mencari anak buah, tanpa melihat butuh tidaknya orang tersebut kepada barang yang ditawarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Makelar tidak ada urusan dengan perlakuan pembeli barang atas barang yang teah dibelinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara anggota mlm ini terus memantau sejauh mana barang tadi berantai supaya sampai kepada suatu jumlah yang membuatnya berhak mendapatkan komisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan:</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama islam telah mengharamkan jual beli dengan system MLM ini, seperti LAJNAH DAIMAH.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan yang berakal dari merekapun melarang system piramida ini, lihat<a href="http://skepdic.com/pyramid.html"> disini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=335&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2011/01/22/mlm-multi-level-marketing-menurut-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dibalik Bank islam dan Leasing..??</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2011/01/21/dibalik-bank-islam-dan-leasing/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2011/01/21/dibalik-bank-islam-dan-leasing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 22:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buyu&#039;]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum bermuamalah dengan bank islam dan leasing]]></category>
		<category><![CDATA[bank islam menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[bank slam]]></category>
		<category><![CDATA[leasing]]></category>
		<category><![CDATA[leasing menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah dengan bank islam]]></category>
		<category><![CDATA[muamalah dengan leasing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Pada asalnya pengadaan bank yang islami yang jauh dari “riba” dan “pinjaman yang bersifat riba” adalah suatu hal yang sangat baik, namun ternyata bank-bank islam yang ada tidak memenuhi apa yang telah dijanjikan kepada kaum muslimin, bahkan di hidangkan kepada mereka muamalah atau system yang tidak sah dan haram, bank-bank islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=332&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></h3>
<p style="text-align:justify;">Pada asalnya pengadaan bank yang islami yang jauh dari “riba” dan “pinjaman yang bersifat riba” adalah suatu hal yang sangat baik, namun ternyata bank-bank islam yang ada tidak memenuhi apa yang telah dijanjikan kepada kaum muslimin, bahkan di hidangkan kepada mereka muamalah atau system yang tidak sah dan haram, bank-bank islam yang ada sekarang pada umumnya menggunakan system yang di istilahkan dengan “<strong>بيع المرابحة </strong>” dan ada sebagian ulama yang membela keberadaan bank-bank ini meskipun disana terdapat berbagai kesalahan, dengan alasan tidak seorangpun yang bersih dari kesalahan sementara niat dan tujuan dari bank-bank tersebut adalah mewujudkan bank yang islami.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun yang benar ialah “sesungguhnya bank-bank islam tersebut lebih berbahaya daripada bank-bank yang secara nyata adalah bank riba”, karena seseorang yang bermuamalah dengan bank-bank riba itu yakin bahwa dia telah bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, sementara orang-orang yang bermuamalah dengan bank-bank yang di sebut bank islam itu mendekatkan diri kepada Allah ketika bermuamalah dengan bank tersebut, mereka bermuamalah dengan riba dan transaksi yang haram serta tidak sah dengan anggapan bahwa mereka telah berbuat suatu amalan yang sangat baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah banyak ulama yang melarang bermuamalah dengan bank-bank islam ini dan bank-bank riba lainnya, tetapi pelarangan dari bank “islam” lebih keras sebab pada hakikatnya adalah muamalah (riba) berkedok islam.</p>
<p style="text-align:justify;">( <strong>بيع الأمانة</strong> ) “ jual beli yang amanah” tidak ada perselisihan ulama tentang kebolehannya, diistilahkan dengan “ bai’ amanah” dikarenakan si penjual wajib jujur dalam menyebutkan “harga” kepada pembeli, “jual beli amanah” ini ada tiga macam:</p>
<p style="text-align:justify;">1. <strong>بيع المرابحة </strong>( jual di atas harga modal ), bentuknya: Saya membeli barang seharga seribu dan dijual kepada yang lain dengan keuntungan 200, ini “murobahah”, <em>tidak seperti “murobahah”</em> <em>yang di maksud oleh bank-bank islam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">2. <strong>بيع الوضيعة </strong>( jual dibawah harga modal ), bentuknya: Saya membeli barang seharga Rp.1000; dan saya jual karena kebutuhan dengan harga Rp.800;</p>
<p style="text-align:justify;">3. <strong>بيع التََوْليَِة </strong>( jual harga modal), bentuknya: Saya membeli barang seharga Rp.1000; dan dijual seharga Rp.1000; pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Jual beli ini di namakan “Jual beli amanah” sebab di bangun atas amanah (kejujuran yang berbicara).</p>
<p style="text-align:justify;">“BAI’UL MURABAHAH” dalam bentuk seperti ini tidak diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama, dan terdapat sedikit pertentangan dari sebagian Fuqaha yang menyatakan makruhnya namun pendapat itu tidak bisa dibenarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi “MURABAHAH” yang diterapkan oleh bank-bank islam bukanlah murabahah seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa bentuk “MURABAHAH” yang terdapat pada bank-bank islam:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Nasabah datang ke bank dan mengatakan: “Saya mau membeli sebuah mobil merk ini yang di jual di tempat ini seharga Rp. 100.000.000; Maka pihak bank membuat surat perjanjian jual beli / akad jual beli dengan nasabah tersebut, pihak bank mengatakan: “Saya akan menjual kepada anda mobil tersebut seharga Rp.110.000.000; yang di bayarkan secara ansur selama dua tahun”, maka disini pihak bank <strong><em>menjual mobil sebelum dimiliki</em></strong>, kemudian pihak bank akan memberikan kepada nasabah (pemohon) uang dengan nominal yang sama dengan harga mobil, dan mengatakan: “Silahkan anda membelinya, pihak bank tetap di kantor dan tidak pergi ke <strong>Showroom </strong>mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum jual-beli type ini: Tidak terdapat perselisihan akan “<em>ketidakbolehannya”</em>, karena masuk pada bab: <em><span style="text-decoration:underline;">“Pinjaman yang diambil manfaat</span></em> atau <em><span style="text-decoration:underline;">“menjual sesuatu yang tidak ada padanya</span></em>”( artinya tidak dimiliki atau belum dikuasai sepenuhnya).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Seperti yang pertama dengan sedikit perbedaan, yaitu pihak bank menghubungi pihak showroom, pihak bank mengatakan: “Kami telah membeli dari anda mobil jenis ini, kemudian pihak bank mentransfer uang kepada pihak showroom, lalu berkata kepada nasabah (pemohon): “Silahkan anda mengambil mobil, kami menjualnya kepada anda dengan tambahan harga 10 juta dengan system pembayaran tempo.</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum type kedua ini: Diharamkan, sebab pihak bank menjual barang yang “belum masuk dalam tanggungannya”, dan “belum berada dalam kekuasaannya” (artinya belum dipindahkan ke tempat yang berada diluar wilayah showroom).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Masih seperti sebelumnya dengan sedikit perbedaan, yaitu pihak bank langsung datang ke showroom dan membeli mobil yang diinginkan oleh pemohon, pihak bank berkata kepada pihak showroom: “ Saya beli mobil ini kemudian pergi, pihak bank sebelum keluar dari bank telah menulis perjanjian / akad dengan tambahan harga.</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum type ini: Diharamkan, sebab pihak bank menjual barang yang belum dimiliki, dan hakekat type ini ialah: “Jual-beli rupiyah dengan rupiyah dengan adanya barang ditengah-tengah mereka (artinya barang hanya sebagai alat).”, seolah-olah pemohon berkata: “Saya pinjam uang 100 juta untuk membeli mobil ini, pihak bank menjawab: “kami saja yang membelinya kemudian dijual ke anda”, ganbarannya seperti: meminjamkan uang 100 jt dengan pengembalian 110 jt.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Seperti sebelumnya, tetapi pihak bank datang sendiri ke showroom dab berkata: “Kam telah membeli barang ini, dan sementara barang kami titipkan di tempat anda, kemudian pihak bank menemui pemohon dan berkata: “Silahkan anda datang ke showroom dan terimalah barang, kami telah membelinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum type ini: Sebagian ulama memblekhan sebab pihak bank statusnya menitipkan barang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pendapat yang benar ialah: Terlarang, sebab Nabi صلى الله عليه وسلم melarang menjual barang sampai pedagang memindahkan ke tempat / rumah mereka, dan melarang menjual barang yang belum dimiliki sepenuhnya. Maka bila membeli mobil harus di keluarkan ke tempat yang berada diluar kepemilikan penjual / showroom.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima</strong>: Datang pemohon ke bank dengan tujuan memperoleh barang (artinya bukan pinjam uang), pihak bank berkata: “Ya, kami akan sediakan apa yang anda butuhkan”, kedua belah pihak telah mesepakati ketentuan laba, lalu pihak bank datang ke showroom, pulang dengan membawa mobil dan diparkir di halaman bank, kemudian terjadi akad jual-beli, disini bank telah memiliki barang sepenuhnya, dan tidak menjual barang melainkan setelah benar-benar memiliki barang tersebut, apa hukumnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum type ini: Jika akad jual beli disini bersifat wajib maka haram, sebab masuk pada bab” menjual barang yang tidak dimiliki” dan “belum masuk dibawah tanggungannya.” Ini tipu muslihat kepada “riba”, sekiranya anda tidak datang ke bank tentu pihak bank tidak akan membeli ‘mobil’, ini layaknya seseorang yang meminjami uang seharga mobil dengan pengembalian lebih, sementara ‘pinjaman dengan tambahan pengembalian adalah riba’.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun jika akad jual beli disini tidak wajib, artinya pemohon bebas memilih antara jadi dan tidak membeli barang tsb, (catatan: mungkinkah hal ini terjadi? Mungkinkah pemohon tidak jadi membeli padahal dia sangat butuh? Mungkinkah pihak bank dengan suka cita menerima pembatalan pihak pemohon? )</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pasti, jika benar ada maka para ulama berselih pendapat;</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jumhur ulama</em>: Membolehkan, diantara ulama sekarang yang membolehkan Syaikh bin Baz, Al Fauzan, Lajnah Daimah, sebagian bahkan menyatakan: “Tidak ada masalah atas kebolehannya”.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sebagian ulama yang lain</em>: Mengharamkannya, diantaranya Syaikh Utsaimin, Syaikh Albani.</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan ulama yang melarang: “Pihak pemohon tidak mungkin mengurungkan akad, sebab dia membutuhkan barang tersebut.” Seandainya ada satu dari sekian puluh ribu pemohon maka itu tidak dianggap.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lalu mana dari dua pendapat diatas yang rajih ??</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekedar info: Tidak ada bank yang mau memenuhi permohonan nasabah melainkan setelah pemohon memenuhi sekian persyaratan yang diajukan oleh pihak bank.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jadi..???</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Jauhkan diri kita semua dari bermuamalah dengan bank jenis apapun, kita ikuti bimbingan dua ulama’ kita Syaikh ‘Utsaimin dan Syaikh Albani, sebab “akad yang tidak mengikat laksana FATA MORGANA yang hampir pasti tidak ditemukan di bank-bank apapun jenisnya.”.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">NB: Jika ada yang membutuhkan penjelasan terperinci penulis sarankan untuk belajar, mempelajari islam dengan dalil-dalilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين&#8221;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikannya maka Allah akan memberikan kefahaman terhadap urusan agamanya.” (Muttafaq ‘Alaih dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">FAEDAH:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Leasing</strong> (sewa guna usaha) apapun jenisnya apakah itu <strong>Capital Lease </strong><strong>ataupun Operating Lease </strong><strong>memiliki hukum yang sama </strong><strong>dengan pembahasan kita diatas, kalau mau dibedakan maka perbedaannya pada akadnya, yang diatas bunyi akadnya adalah: “jul-beli”, dan leasing </strong><strong>akadnya berbunyi: “sewa-menyewa”, ada lagi perbedaannya yaitu: “jika jual-beli tujuannya adalah pemilikan barang dan sewa-menyewa tujuannya pemanfaatan barang”,  adapun dari sisi hukum tidak berbeda alias sama saja, para Fuqaha menjelaskan bahwa “</strong><strong>الاجارة كالبيع</strong><strong> </strong>” ( Sewa menyewa seperti jual beli).</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian kita masih bimbang dan ragu tentang hakekat leasing dan hukumnya, apalagi kalau kita membaca definisi atau penjelasan dari anak-anak kuliahan yang sedang membuat makalah atau menyelesaikan tugas dari pak dosen, niscaya akan menjadi bertambah ruwet dan kabur inti permasalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begini saja, jika perusahaan leasing atau pihak <strong>lessor </strong>benar-benar memiliki barang dalam arti barang yang disewakan itu ada disisinya dan sepenuhnya telah menjadi miliknya lalu barang tersebut disewakan atau dijual dengan system kredit silahkan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi kenyataan berkata lain, yang berjalan ditengah-tengah masyarakat kita dan mungkin itu yang mereka ketahui tentang leasing, yaitu: Tempat pinjam uang atau modal tak ubahnya bank, bahkan resikonya lebih besar daripada bank.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Contoh kasus: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Paimin beli motor di Showroomnya Paijo, Paimin berkata: “Aku beli motor ini tapi fulus kurang gimana?, Paijo menjawab dengan tenang ( gimana ga tenang..mau dapet komisi gede dari leasing&#8230;): “Gampang Min, kekurangannya bisa dicicil koq, lalu paijo memasukkan motor tadi ke pihak leasing (lessor) atau istilahnya dileasingkan, pihak lessor membayar kontan plus komisi kepada Paijo, besaran komisi tergantung nilai ‘kredit’ barang tadi, bertambah tinggi nilai kreditnya bertambah tinggi pula KOMISINYA, lho koq bisa..? jawabnya: ‘Sangat bisa’, sebab pihak lessor memiliki keuntungan besar dari nilai harga barang yang dikreditkan oleh pihaknya kepada nasabah dalam kasus ini kepada Paimin, plus bunga tentunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kongktitnya begini: Dalam kasus ini ada 3 pihak yang bertransaksi, nasabah (Paimin), pemilik showroom (Paijo), dan <strong>lessor, setelah lessor membayar lunas motor paijo plus KOMISI tadi, pihak lessor membuat perjanjian dengan Paimin (nasabah) terkait kekurangan fulus pembayaran motor tadi, jika mau dicicil setahun maka / bulan segini, kalau dicicil 2 th maka/bln segitu, kalau terlambat bayar maka/bln ada tanggungan segini&#8230;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan: Bolehkah transaksi lessor seperti ini..? Bukankah lessor belum memiliki barang sepenuhnya dengan memindahkan motor tadi ke gudang atau tokonya ? Dan bukankah lessor telah menjual barang yang tidak ada disisinya dalam arti jika pihak showroom (Paimin) tidak datang meleasingkan motor tentu lessor tidak membelinya..?</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh kasus lain: Bejo punya mobil, karena butuh modal usaha terpaksa Bejo datang ke perusahaan leasing (lessor) guna meleasingkan mobilnya, terjadilah kesepakatan harga misal Rp. 50 jt, lessor memberikan uang tadi ke Bejo dengan perjanjian : “Bejo harus mengembalikan uang tadi selama sekian bulan dengan tambahan harga 2,5%, dan jika pada waktunya tidak sanggup melunasi maka mobil Bejopun lenyap dimakan lessor”.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan: Bolehkah transaksi type ini ? Padahal gambarannya seperti orang ngutang fulus 50jt harus mengembalikan 60jt plus jaminan.</p>
<p style="text-align:justify;">Silahkan dijawab dengan benar, yang bisa menjawab dengan benar mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran kebaikan padanya dunia akhirat. Amiien.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=332&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2011/01/21/dibalik-bank-islam-dan-leasing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KHUSYU&#8217; DALAM SHALAT</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/05/17/khusyu-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/05/17/khusyu-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 00:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khusyu' Dalam Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban khusyu']]></category>
		<category><![CDATA[Khusyu' dalam shalat]]></category>
		<category><![CDATA[makna khusyu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta&#8217;ala berfirman: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ، إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ، فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ، وَالَّذِينَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=318&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</h3>
<h3 style="text-align:center;">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ، إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ، فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ، وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ، أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ، الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</h3>
<h3 style="text-align:center;"><span style="font-size:13px;">Sungguh beruntung orang-orang yang <em>beriman</em>, (yaitu) orang-orang yang <em>khusyu&#8217; dalam shalatnya</em>, dan orang-orang yang <em>menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna</em>, dan orang-orang yang <em>menunaikan zakat</em>, dan orang-orang yang <em>menjaga kemaluannya</em> kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa, barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang <em>memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya</em>. Dan orang-orang yang <em>memelihara shalatnya</em>. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, <em>(yakni) yang akan mewarisi Jannah (syurga) Firdaus</em>, mereka kekal di dalamnya. (Al Mu&#8217;minun: 1-11)</span></h3>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-size:13px;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Majmu&#8217; (22/554) berkata: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-size:13px;">&#8220;Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberitakan bahwa mereka (orang-orang yang berperangai seperti dalam ayat di atas) sebagai pewaris Jannah (Syurga) Firdaus, hal itu menunjukkan bahwa &#8220;Jannah Firdaus&#8221; tidak diwarisi oleh selain mereka, yang demikian menunjukkan atas <em>wajibnya</em> perangai-perangai ini, sebab bila  di antara perangai ini ada yang &#8221; mustahab&#8221; (sunnah), tentu &#8220;Jannah Firdaus&#8221; akan dapat diwarisi tanpa perangai tersebut, <em><strong>padahal &#8220;Jannah&#8221; itu akan di peroleh dengan melaksanakan kewajiban bukan dengan melaksanakan perkara mustahab (yang sunnah)</strong></em>, karenanya Allah tidak menyebut perangai-perangai (dalam ayat) ini melainkan (perangai) yang wajib.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:13px;"><strong><em>Dan bila &#8220;Khusyu&#8217; dalam shalat itu wajib maka khusyu&#8217; mengandungi makna sakinah dan tawadhu&#8217; (tenang dan merendahkan diri)</em></strong></span><span style="font-weight:normal;font-size:13px;">.&#8221;</span></p>
<h3 style="text-align:center;">{ وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ * الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ }</h3>
<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:normal;"><em><strong>Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya </strong></em></span><span style="font-weight:normal;"><em><strong>SHALAT</strong></em></span><span style="font-weight:normal;"><em><strong> itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu&#8217;, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada</strong></em></span><span style="font-weight:normal;"><em><strong>-</strong></em></span><span style="font-style:normal;"><span style="font-weight:normal;"><em><strong>Nya</strong></em></span></span><span style="font-weight:normal;"><em><strong>.</strong></em></span><span style="font-weight:normal;"><em><strong> (Albaqarah: 45-46)</strong></em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di dalam tafsirnya menjelaskan:<span id="more-318"></span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8230;{ وَإِنَّهَا } (dan sesungguhnya ia); yakni <em>&#8220;SHALAT&#8221;</em>,{ لَكَبِيرَةٌ } yakni <em>&#8220;berat&#8221; ,</em>{ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ } (kecuali bagi orang-orang yang khusyu&#8217;); Shalat itu gampang dan ringan atas mereka; Karena ke Khusyuan, rasa takut kepada Allah dan pengharapan terhadap apa yang ada di sisi-Nya menuntut dia melaksanakan SHALAT dengan penuh kelegaan hati karena menanti pahala dan takut hukuman, berbeda dengan orang yang tidak seperti itu, maka tidak ada pendorongnya untuk melaksanakan shalat, dan andaikan shalat itu ia kerjakan sungguh SHALAT akan menjadi sesuatu yang sangat berat atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan <em>KHUSYU&#8217;</em> ialah:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ketundukan, kedamaian dan ketenteraman hati kepada Allah Ta&#8217;ala, serta merendahnya hati itu di hadapan Allah dengan penuh hina dan ketidakberdayaan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya selanjutnya Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">{ الَّذِينَ يَظُنُّونَ }; Yakni &#8220;orang-orang yang meyakini&#8221;,{ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ }; (mereka akan bertemu Rabbnya); Dan (Rabbnya) akan membalasi mereka setimpal dengan amal perbuatannya,{ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ }; (dan sesungguhnya hanya kepada-Nya mereka akan kembali); (Keimanan terhadap negeri akhirat)  inilah yang membuat segenap amal ibadah ringan bagi mereka, menjadikan mereka terhibur dalam musibah, ringan menghadapi segenap kesusahan, mencegah mereka dari berbuat kejelekan,  merekalah orang-orang yang beroleh keni&#8217;matan abadi dalam kamar-kamar yang tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun orang yang tidak beriman pertemuannya dengan Rabbnya, maka shalat dan ibadah-ibadah yang lain menjadi suatu yang paling berat dirasa olehnya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rajab Al Hanbali dalam &#8220;Syarah Bukhari&#8221; menukilkan beberpa pendapat Ulama tentang makna KHUSYU&#8217;, di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abbas berkata: &#8221; Orang-orang yang Khusyu&#8217; itu ialah  orang-orang yang takut dan tenang.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hasan (Al Bashri) berkata: &#8220;Khusyu&#8217; terdapat dalam hati-hati mereka, sehingga mereka tundukkan pandangan dan merendahkan diri kepada-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Mujahid berkata: &#8220;Para Ulama itu bila salah seorang mereka berdiri shalat ia takut kepada Ar-Rahman (Allah) bila menyimpagkan pandangannya, atau menoleh, atau membalikkan kerikil, mencari sesuatu, atau mengajak bicara dirinya dengan sesuatu dari dunia kecuali lupa, selama dalam shalatnya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(Bersambung)&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=318&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/05/17/khusyu-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awass..!!! Sumanto Sumanti Bergentayangan</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/24/awass-sumanto-sumanti-bergentayangan/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/24/awass-sumanto-sumanti-bergentayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 04:02:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ghibah lebih sadis dari Suumaantoo...]]></category>
		<category><![CDATA[ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[makan bangkai saudara]]></category>
		<category><![CDATA[penggunjing]]></category>
		<category><![CDATA[Profokator]]></category>
		<category><![CDATA[sumanto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[MENGGUNJING LAKSANA MAKAN BANGKAI SAUDARA ALLAH TA&#8217;ALA BERFIRMAN: {{  وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ  }} &#8220;dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan mayat saudaranya? tentu ia menjijikkan kamu&#8221;. (Al Hujurat: 12) Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=311&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:center;">MENGGUNJING</h2>
<h3 style="text-align:center;">LAKSANA MAKAN BANGKAI SAUDARA</h3>
<h4 style="text-align:center;">ALLAH TA&#8217;ALA BERFIRMAN:</h4>
<h3 style="text-align:center;">{{  وَلَا  يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ  لَحْمَ  أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ  }}</h3>
<h5 style="text-align:center;">&#8220;dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan mayat saudaranya? tentu ia menjijikkan kamu&#8221;. (Al Hujurat: 12)</h5>
<h3 style="text-align:center;">Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</h3>
<h3 style="text-align:center;">« أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ »؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »</h3>
<h5 style="text-align:center;">&#8220;Tahukah kalian apa itu ghibah ? Para Shahabat menjawab: Allah dan Rasul Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: &#8220;(Ghibah ialah kamu menyebut diri saudaramu dengan sesuatu yang ia benci&#8221;; Ada yang bertanya: &#8220;bagaimana bila pada diri saudaraku itu benar seperti yang aku katakan&#8221; ?, Beliau menjawab: &#8220;Bila apa yang kamu katakan ada pada dirinya itulah &#8220;GHIBAH&#8221;, dan bila tidak ada, maka kamu telah menyiarkan berita bohong tentangnya.&#8221;</h5>
<h5 style="text-align:center;">(HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah)</h5>
<h3 style="text-align:center;">Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</h3>
<h3 style="text-align:center;">(( المسلمُ مَن سلم المسلمون من لسانه ويده ))</h3>
<h5 style="text-align:center;">&#8220;Seorang muslim itu ialah seorang yang saudara-saudara muslimnya selamat dari lisan dan tangannya&#8221;.</h5>
<h5 style="text-align:center;">(HR. Bukhari dari hadits Abdullah bin Amr)</h5>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Syakh Abdurrahman As Sa&#8217;di رحمه الله berkata:</strong></h3>
<h4 style="text-align:justify;">{ وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا }:&#8221;Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain&#8221;,</h4>
<p style="text-align:justify;">Dan ghibah, sebagaimana yang disabdakan Nabi صلى الله عليه وسلم :</p>
<h3 style="text-align:justify;">&#8221; ذكرك أخاك بما يكره ولو كان فيه &#8220;: &#8220;Kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci meski itu ada pada dirinya&#8221;.</h3>
<p style="text-align:justify;">Lalu (Allah) menyebutkan permisalan yang membuat (manusia) lari dari &#8220;GHIBAH&#8221;, Allah berfirman:<span id="more-311"></span></p>
<h3 style="text-align:justify;">{ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ }:&#8221;Adakah seorang diantara kamu yang suka makan mayat saudaranya ? Maka tentu ia menjijikkan kamu !&#8221;</h3>
<p style="text-align:justify;">(Allah) serupakan <em>&#8220;GHIBAH&#8221;</em> dengan makan bangkai saudara, perkara yang sangat tidak disukai oleh jiwa, maka layaknya kamu tidak suka makan dagingnya apalagi setelah matinya, maka sudah semestinya kamu sangat membenci pula <em><strong>&#8220;MENGGUNJINGNYA&#8221;</strong></em> dan makan dagingnya semasa hidupnya.&#8221; (Tafsir As Sa&#8217;di).</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Ibnul &#8216;Utsaimin رحمه الله berkata: </strong></h3>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم dalam mendefinisikan &#8220;GHIBAH&#8221; : <em>&#8220;Kamu menyebut diri saudaramu dengan suatu yang dibenci&#8221;,</em> meliputi: Cacat tubuh, cacat, akhlaq, dan cacat agama, segala sesuatu yang dia benci bila kamu menyebutnya maka itu &#8220;GHIBAH&#8221;, misalnya aib tubuhnya, kamu mengatakan: &#8220;Dia pincang, pece, jangkung, pendek, atau yang seperti itu maka itulah <em>&#8220;GHIBAH&#8221;</em>, atau dari sisi akhlaq misalnya kamu mengatakan: &#8220;Dia kurang memelihara diri, dia suka memandang wanita atau anak-anak muda yang belum tumbuh jenggotnya atau kata-kata seperti itu, atau aib dalam agama misalnya kamu mengatakan: &#8220;Dia Ahli bid&#8217;ah, dia tidak shalat berjamaah, atau dia berbuat ini dan itu, kamu cela dia saat dia ghaib itulah &#8220;GHIBAH&#8221;, namun bila itu kamu katakan dihadapannya maka itu caci makian dan bukan ghibah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketahuilah, &#8220;GHIBAH&#8221; itu semakin keji dan besar dosanya sesuai dengan akibatnya, menggunjing orang biasa beda dengan menggunjing seorang alim, atau tidak seperti menggunjing seorang pemimpin, mudir (kepala sekolah dan yang semisalnya), menteri, atau yang seperti itu, sebab menggunjing seorang pemimpin apakah pemimpin dalam lingkup kecil maupun besar lebih jahat bila dibandingkan dengan menggunjing orang biasa yang tidak memiliki kekuasaan, karena bila yang kamu gunjing itu orang biasa kamu hanya menyakiti dirinya, namun bila yang kamu gunjing itu seorang pemimpin maka kamu menyakiti dia dan seluruh yang ada dibawah kepemimpinannya dari urusan kaum muslimin, misalkan kamu menggunjing seorang &#8216;alim, maka pasti kamu menyakiti pribadinya seperti layaknya muslimin yang lain, namun lebih dari itu kamu telah menyakiti ilmu syariat yang dibawanya, &#8216;alim yang membawa syariat bila kamu gunjing maka akan jatuh di mata manusia, dan bila ia telah jatuh di mata manusia maka mereka tidak mungkin meerima ucapannya, tidak akan datang kepadanya dan kembali  dalam urusan agama mereka kepadanya, dan segala kebenaran yang dimiliki &#8216;alim itu menjadi diragukan lantaran kamu &#8220;MENGGUNJINGNYA&#8221;, betapa besarnya &#8220;KEJAHATAN&#8221; kamu terhadap syariat.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula bila kamu menggunjing seorang amir, raja, atau pemimpin, kamu tidak hanya menggunjing pribadinya, bahkan kamu menggunjing pribadinya dan sekaligus merusak kepemimpinannya, sebab bila kamu menggunjing seorang amir, atau menteri, atau raja, artinya kamu memasukkan kebencian ke dalam hati masyarakat  terhadap pimpinannya, dan bila hati masyarakat telah benci kepada pemimpin mereka maka dalam hal ini kamu pun telah berbuat jahat kepada seluruh masyarakat dengan kejahatan yang amat besar, karena akan menyebabkan kekacauan dan keributan di tengah masyarakat, kamu cerai-beraikan mereka,</p>
<p style="text-align:justify;">hari ini (mereka) menghujani kata-kata dan esok menghujani panah, sebab hati bila telah benci terhadap penguasa tidak mungkin lagi dapat mentaati aturan-aturannya, bila diperintah dengan kebaikan maka hati pun memandangnya jelek, karenanya ada seorang penyair melantunkan syair jujurnya:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>dan mata kerelaan itu dari segala aib layaknya malam gulita&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>sementara mata kebencian akan melahirkan segala cacat dan cela&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang terpenting ialah kita wajib menjauhi &#8220;GHIBAH&#8221;, dan menyadari bahwa setiap kata yang mengandung &#8220;GHIBAH&#8221; terhadap seseorang akan mengurangi kebaikan kita (kalau punya !!!) dan menambah kebikan orang yang terdzalimi dengan ghibah tersebut, seperti datang dalam sebuah hadits:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut diantara kalian? mereka menjawab: &#8216;orang yang tidak punya uang dirham dan barang dagangan, beliau bersabda: Bukan, orang yang bangkrut ialah: &#8220;Orang yang datang pada hari kiamat dengan segala kebaikan laksana gunung-gunung, namun ia pun datang dalam keadaan telah mendzalimi ini, mencaci ini, dan mengambil harta ini, maka yang ini mengambil kebaikannya, yang ini juga, dan yang ini juga, dan bila kebaikannnya telah habis maka diambilkan dari kejelekan mereka (orang-orang yang terdzalimi) dan di lemparkan kepadanya lalu dia pun dilemparkan ke dalam neraka.&#8221; </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>(HR. Muslim dari hadits Abu hurairah) [ Syarh riyadhuls shalihin)</p>
<p style="text-align:justify;">Sudaraku fillah...</p>
<p style="text-align:justify;">Apa gerangan yang ada di hati kita, saat mendengar berita manusia pemakan mayat alias SUUMANTOO...???</p>
<p style="text-align:justify;">Ngeri..jijik..sadis..dan apalagi ??</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata tanpa kita sadari barangkali kita lebih mengerikan, lebih menjijikkan, dan lebih sadis dari Sumanto, bagamana tidak..!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Sumanto sembuyi-sembunyi saat melakukan aksinya namun kita justru fulgar, terang-terangan sambil nyruput kopi rame-rame...</p>
<p style="text-align:justify;">Sumanto mungkin terpaksa melakukan itu sebab tuntutan ekonomi atau alasan lainnya, namun kita melakukan itu karena gemar, hoby, dan untuk menghangatkan majlis kopi dan syahi ...-kita berlindung kepada Alah Ta'ala- dari itu semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku fillah...</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa ghibah itu merupakan dosa besar yang amat keji dan menjijikkan, sampai-sampai Rasulullah صلى الله عليه وسلم saat mendengar kata-kata istri tersayangnya Aisyah رضي الله عنها :</p>
<h4 style="text-align:justify;">[[ حسبك من صفية كذا وكذا قال بعض الرواة: تعني قصيرة  ]]</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Cukup untukmu Shafiyyah itu begini dan begini, sebagian rawi menyebutkan maksudnya: &#8220;PENDEK&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau bersabda:</p>
<h4 style="text-align:justify;">[[  لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته   ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sungguh kamu telah mengucapkan satu kata yang seandainya dicampur dengan air laut niscaya benar-benar air laut itu tercampuri.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, shahih, dishahihkan syaikh Albani)</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah teguran keras Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada wanita yang paling disayanginya saat mengucapkan satu kata yang nyata tidak mengada-ada artinya Shafiyyah benar-benar &#8220;PENDEK&#8221;, <em><strong>itulah ghiba</strong><strong>h</strong></em> dan jangan salah kaprah memahami ghibah, sebagian orang menyangka ghibah itu bila tidak sesuai kenyataan; tidak, <em>ghibah adalah setiap kata yang terucap perihal saudara kita yang bila ia mendengar maka ucapan itu dibencinya</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Na&#8217;am, menggunjing saudara dengan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan itu pun &#8220;GHIBAH&#8221; plus &#8220;KEBOHONGAN&#8221;, seperti sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :</p>
<h4 style="text-align:justify;">[[  وددت أني لقيت إخواني فقال أصحابه : أو ليس نحن إخوانك ؟ قال : أنتم أصحابي ولكن إخواني الذين آمنوا بي ولم يروني ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Aku sangat ingin berjumpa saudara-saudaraku, para sahabatnya bertanya: &#8220;Bukankah kami saudara-saudaramu ? Beliau bersabda: Kalian adalah sahabatku, namun saudaraku ialah orang-orang yang beriman kepadaku dan tidak melihatku.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Muslim, Malik, Ahmad dll dari hadits Abu Hurairah).</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم <em>&#8220;Kalian adalah sahabatku&#8221;</em> bukan berarti para sahabat bukan saudara Nabi, bahkan mereka adalah sahabat dan saudaranya. Seperti yang di jelaskan oleh Syaikh &#8216;Utsaimin dalam beberapa tempat dalam kitabnya).</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, mari kita berupaya sekuat kemampuan menjalankan ilmu yang telah dianugerahkan kepada kita sambil selalu memohon kepada Allah Ta&#8217;ala agar senantiasa memberikan taufiq dan hidayah Nya kepada kita, supaya kita mampu menjalankan segenap bimbingan Nya dan bimbingan Rasul Nya serta menerima taubat dan permohonan ampun atas segala khilaf dan dosa kita. Aamiieen.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/311/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=311&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/24/awass-sumanto-sumanti-bergentayangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengaqiqahi Diri Setelah Dewasa</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/20/hukum-mengaqiqahi-diri-setelah-dewasa/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/20/hukum-mengaqiqahi-diri-setelah-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 19:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buyu&#039;]]></category>
		<category><![CDATA[Aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah untuk sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[hadits Nabi صلى الله عليه وسلم mengakekahi diri sendiri setelah jadi Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Mengaqiqahi Diri Sendiri Setelah Dewasa Dalam hal ini Para Ulama&#8217; memiliki dua pendapat: Pertama: &#8220;Di sunnahkan bagi seorang yang saat kecilnya belum di aqiqahi untuk mengaqiqahi diri sendiri setelah dewasa&#8221;. Ini pendapat Atha&#8217;, Al Hasan, dan Ibnu Siirin; Al Hafidz Al &#8216;Iraqi menyebutkan bahwa Imam Syafi&#8217;i berpandangan &#8220;dipersilahkan&#8221; saja bagi yang mau beraqiqah untuk dirinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=308&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:center;"><strong>Mengaqiqahi Diri Sendiri Setelah Dewasa</strong></h2>
<h3 style="text-align:justify;">Dalam hal ini Para Ulama&#8217; memiliki dua pendapat:</h3>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Di sunnahkan bagi seorang yang saat kecilnya belum di aqiqahi untuk mengaqiqahi diri sendiri setelah dewasa&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini pendapat Atha&#8217;, Al Hasan, dan Ibnu Siirin; Al Hafidz Al &#8216;Iraqi menyebutkan bahwa Imam Syafi&#8217;i berpandangan &#8220;dipersilahkan&#8221; saja bagi yang mau beraqiqah untuk dirinya sendiri, dan hal itu di pandang baik oleh Al Qaffal Asy Syasyi Asy Syafi&#8217;i, demikian pula sebuah riwayat dari Imam Ahmad, adapun Asy Syaukani mengaitkan pendapatnya tentang perkara &#8220;mengaqiqahi diri setelah dewasa&#8221; dengan keshahihan haditsnya (artinya bila haditsnya shahih maka ia pun sependapat).&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat kedua:<span id="more-308"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tidak (disunnahkan) mengaqiqahi diri setelah dewasa, ini pendapat Malikiyah, alasannya ialah &#8220;tidak di kenal di Madinah&#8221;, ini juga riwayat dari Imam Ahmad dan di nisbahkan pula kepada Asy Syafi&#8217;i, namun penisbahan ini di ingkari oleh An Nawawi dan Al Hafidz Ibnu Hajar dan lainnya, yang benar dari Imam Asy Syafi&#8217;i apa adalah yang pertama tadi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Perselisihan ini dikarenakan hadits yang di jadikan dalil atas permasalahan ini diperselisihkan akan &#8220;keshahihannya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Andaikan disepakati keshahihannya, tentu para ulama&#8217; tidak berselisih, sebab merreka semua berpegang dengan satu prinsip:</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>[[ إذا صح الحديث فهو مذهبي  ]]</strong></h3>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Bila Hadits itu shahih maka itulah Madzhabku&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan Pedoman beragama mereka pun satu, yaitu Firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<h3 style="text-align:justify;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Hai Orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Pemimpin dari kalian, maka bila kalian berselisih tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul bila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik pahalanya (bagimu).&#8221;</em> (An Nisa: 59)</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, Sekarang mari kita pelajari hadits yang diperselisihkan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Lafadz haditsnya:</p>
<h3 style="text-align:justify;">[[  أن النبي عق عن نفسه بعد النبوة ]]</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Nabi صلى الله عليه وسلم mengaqiqahi diri sendiri setelah menjadi Nabi.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits ini memiliki beberapa jalan:<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Melalui jalan<em> &#8220;ABDULLAH BIN MUHARRAR DARI QOTADAH DARI ANAS&#8221;</em> &#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Melalui jalan<em> &#8220;ISMAIL BIN MUSLIM DARI QOTADAH DARI ANAS&#8221;</em>&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dua jalan ini semua bersumber dari Qotadah dari Anas, kedua rawi dari Qotadah yaitu Muhammad bin Muharrar dan Ismail keduanya lemah, Muhammad bin Muharrar kata Al Bukhari: &#8220;Mungkarul hadits&#8221;, dan kata An Nasai: &#8220;Matrukul Hadits&#8221;, rawi semacam ini haditsnya &#8220;sangat lemah&#8221; dan tidak bisa di dongkrak menjadi &#8220;hasan&#8221;, adapun Ismail bin Muslim, kata Imam Ahmad: &#8220;Munkarul Hadits&#8221;, Kata Ibnul Madini: &#8220;Haditsnya tidak di tulis&#8221; (tidak bisa jadi Syahid), kata Nasai: &#8220;Matrukul Hadits&#8221;; jadi kesimpulannya hadits di atas dari dua jalannya dari Qotadah dari Anas: &#8221; Lemah Sekali&#8221;, tidak bisa di dongkrak sama sekali dan tentunya tidak dapat di pakai hujjah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jalan ketiga:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Melalui Jalan: <em>Abdullah bin Al Mutsanna (cicitnya Anas) dari Tsumamah bin Abdillah (Pamannya) dari Anas bin Malik (Kakek Tsumamah)</em>.</p>
<h3 style="text-align:justify;">Jarh wa Ta&#8217;dil:</h3>
<p style="text-align:justify;">- Abdullah bin Al MUtsanna: Kata Ibnu ma&#8217;in, Abu Zur&#8217;ah dan Abu Hatim: &#8220;Shalih&#8221;, dalam kesempatan lain Abu Hatim berkata: &#8220;Syaikh&#8221;, yang mentsiqahkannya Al &#8216;Ijliy, Tirmidzi, Daroquthni, sementara yang lain ada yang sangat melemahkan, seperti kata Nasai : &#8221; Dia tidak Kuat&#8221;, begitu pula Ibnu Ma&#8217;in dalam kesempatan lain berkata: &#8220;Dia Bukan apa-apa&#8221;, Daroquthni sendiri terkadang melemahkan, kesimpulan Al Hafidz Ibnu Hajar: &#8220;Shaduq banyak salah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Pamannya &#8220;Tsumamah&#8221;, kata Al Hafidz Shoduq dan kata Adz Dzahabi: &#8220;Tsiqah&#8221;, yang lebih benar kayanya kesimpulan Al Hafidz.</p>
<p style="text-align:justify;">Anas bin Malik: &#8220;Shahabat Rasul&#8221; رضي الله عنه .</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku Fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Rawi yang &#8220;Shoduq banyak salah tidak mampu meriwayatkan hadits sendirian alias lemah bila sendirian.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun yang meriwayatkan dari Abdullah bin Al Mutsanna adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">- Al Haitsam bin Jamil: &#8220;Tsiqah&#8221;, kata Adz Dzahabi : &#8221; Hafidz&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan meriwayatkan dari Al Haitsam ada beberapa orang diantaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">- Abu Bakar Al Mustamli: Kata Al Hafidz: &#8220;Tsiqah hafidz&#8221;, kata Adz Dzahabi: &#8220;Hujjah&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku Fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah Al Mutsanna dari pamannya Tsumamah dari Anas adalah &#8220;RAWINYA Al BUKHARI&#8221;, Bukhari membawakan sekian banyak hadits melalui jalan tersebut, mungkin karena itulah Adh Dhiya&#8217; Al Maqdisi Al Hafidz membawakan hadits ini dalam kitabnya : &#8221; Al Ahaditsul Mukhtaroh&#8221; (Hadits-hadits pilihan).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi bisa di simpulkan:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bila Abdullah bin al Mutsanna meriwayatkan dari Tsumamah (pamannya) maka dia: &#8220;Tsiqah&#8221; seperti yang di nyatakan oleh Al &#8216;Ijliy , Tirmidzi dan Daroquthni.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun bila meriwayatkan dari yang lain maka diperselisihkan dan cenderung lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula dengan Pamannya &#8220;Tsumamah&#8221;, bila meriwayatkan dari kakeknya &#8220;Anas&#8221; maka dia &#8220;Tsiqoh&#8221; seperti kata Adz Dzahabi, dan bila meriwayatkan dari lainnya maka dia &#8220;Shoduq&#8221; seperti kata Al Hafidz.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Al Haitsami dalam &#8220;Al Majma&#8217; &#8220;:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;(Hadits tersebut) diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Thabarani dalam &#8221; Al Ausath&#8221;  dan rijalnya Thabarani Rijalnya &#8220;Ash Shahih&#8221; (Yang di maksud Bukhari) selain Al Haitsam bin Jamil dan ia Tsiqah.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Hafidz dalam &#8220;al Fath&#8221;:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hadits ini sanadnya kuat&#8230;seandainya Abdullah bin al Mutsanna tidak di perbincangkan niscaya hadits ini shahih.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Albani membantah Al Hafidz dalam &#8220;silsilah hadits shahihah&#8221;:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dari penjelasan kami yang telah berlalu nyatalah &#8220;sikap&#8221; Bukhari membedakan antara riwayat Abdullah Ibnul Mutsanna dari pamannya di jadikan hujjah, sementara riwayatnya dari yang lain hanya di jadikan &#8220;i&#8217;tibar&#8221; (Syahid).&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Nah inilah sedikit perselisihan yang ada, terkait hadits &#8220;Nabi صلى الله عليه وسلم mengaqiqahi dirinya sendiri setelah menjadi Nabi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku Fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau menurut saya (hmmm&#8230;) hadits tersebut shahih, alasannya ialah Shani&#8217; (perbuatan) Al Bukhari dalam shahihnya yang membawakan sekian banyak hadits dengan sanad tadi, yaitu: Abdullah ibn Al Mutsanna dari Tsumamah dari Anas&#8230; kayanya ini alasan yang sangat kuat, sekali lagi ini menurut saya, tidak tahu menurut Ustadz-Ustadz Muhadditsin Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sebagai penutup pembahasan, saya bawakan beberapa fatwa dari Para Ulama tentang &#8220;Mengaqiqahi diri sendiri setelah dewasa bila sewaktu kecil belum di aqiqahi&#8221;:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Al Hasan al Bashri رحمه الله :</p>
<h3>[ إذا لم يعق عنك فعق عن نفسك وإن كنت رجلاً ]</h3>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bila kamu belum di aqiqahi maka aqiqahilah dirimu sendiri meskipun kamu sudah dewasa.&#8221;(Al Muhalla, sanadnya hasan kata Albani)</p>
<p style="text-align:justify;">2.Muhammad ibnu Siirin رحمه الله :</p>
<h3 style="text-align:justify;">[ لو أعلم أنه لم يعق عني لعققت عن نفسي ]</h3>
<p>&#8220;Seandainya aku tahu belum di aqiqahi niscaya aku mengqiqahi diriku sendiri.&#8221; (Mshannaf Ibnu Abi Syaibah, disahihkan AlBani)</p>
<p>3. Imam Ahmad رحمه الله:</p>
<h3>[ إن فعله إنسان لم أكرهه ]</h3>
<p>&#8220;Bila itu dikerjakan manusia, aku tidak membencinya.&#8221;</p>
<p>4, Syaikh Bin Bazz رحمه الله :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>والقول الأول أظهر وهو أنه يستحب أن يعق عن نفسه ؛ لأن العقيقة سنة مؤكدة ، وقد تركها والده فشرع له أن يقوم بها إذا استطاع ؛ ذلك لعموم الأحاديث ومنها : قوله صلى الله عليه وسلم : « كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى »  أخرجه الإمام أحمد ، وأصحاب السنن عن سمرة بن جندب رضي الله عنه بإسناد صحيح ، ومنها : حديث أم كرز الكعبية عن النبي صلى الله عليه وسلم: « أنه أمر أن يعق عن الغلام بشاتين وعن الأنثى شاة »  أخرجه الخمسة ، وخرج الترمذي وصحح مثله عن عائشة , وهذا لم يوجه إلى الأب فيعم</strong><strong> </strong><strong> الولد والأم وغيرهما من أقارب المولود</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>&#8221; Pendapat yang pertama nampaknya lebih benar, yaitu di sunnahkan seseorang mengaqiqahi dirinya sendiri; sebab aqiqah &#8220;sunnah muakkadah&#8221;, dan bapaknya telah meninggalkan aqiqah tersebut, maka disyariatkan baginya (si anak) melaksanakan (aqiqah) bila mampu; berdasarkan keumuman hadits, diantaranya:</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>&#8220;Setiap anak itu tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan ntuknya pada hari ke tujuhnya, dan di cukur serta di beri nama&#8221;, diiwayatkan Imam ahmad dan Pemilik kitab sunan dari Samurah bin Jundub dengan sanad yang shahih, yang lain dari Ummu Kurz Al Ka&#8217;biyyah dari Nabi صلى الله عليه وسلم :&#8221; Beliau memerintahkan untuk mengaqiqahi anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu&#8221;,di keluarkan oleh yang lima dan Tirmidzi menshahihkan yang senada dengan ini dari hadits Aisyah, dan  &#8220;bimbingan ini tidak mengarah ke bapak saja, sehingga umum meliputi anak, ibu, dan kerabat bayi yang dilahirkan itu.&#8221; (Fatawa Syaikh bin Bazz 26/264). </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>والله أعلم<em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=308&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/20/hukum-mengaqiqahi-diri-setelah-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aqiqah Sunnah Yang Hampir Punah</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/17/aqiqah-sunnah-yang-hampir-punah/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/17/aqiqah-sunnah-yang-hampir-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 04:04:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqiqah Sunnah Yang Hampir Punah]]></category>
		<category><![CDATA[anak shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum aqiqah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[ANAK ADALAH KARUNIA ALLAH TA&#8217;ALA YANG SANGAT BERHARGA Allah Ta&#8217;ala berfirman: {{   يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا   }} &#8220;Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu (akan beroleh) seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah mencipta anak seperti dia.&#8221; (Maryam: 7) Rasulullah صلى الله [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=289&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:center;"><strong>ANAK ADALAH KARUNIA ALLAH TA&#8217;ALA YANG SANGAT BERHARGA</strong></h3>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Allah Ta&#8217;ala berfirman: </strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">{{   يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ  نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا   }}</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu (akan beroleh) seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah mencipta anak seperti dia.&#8221; (Maryam: 7)</em></p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">[[ إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له    ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Bila manusia itu meninggal dunia terputus sudah amalnya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo&#8217;akannya.&#8221; (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه )</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Anak itu karunia Allah Ta&#8217;ala maka bergembiralah dengan berita yang menggembirakan dari Allah ini, lalu berupayalah sekuat kemampuan untuk memdidik anak-anak anda, berusahalah agar anak-anak itu menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, didiklah dengan pendidikan islami, tanamkan kepadanya aqidah yang lurus, akhlaq yang mulia, dan jaga mereka dari racun-racun mematikan yang ditebar oleh musuh bebuyutan anak Adam yaitu Syethan, bekali mereka ilmu agama yang cukup supaya mampu mengarungi hidup yang fana dan penuh fitnah ini dengan tegar meski badai dan gelombang tsunami menerjang.</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></h4>
<h4 style="text-align:right;">بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم يُصبح الرجل مؤمنًا ويُمسي كافرًا ويُمسي مؤمنًا ويُصبح كافرًا، يبيع دينه بعرض من الدنيا</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Bergegaslah dengan amal-amal (shalih) sebelum datangnya fitnah-fitnah layaknya malam yang gelap gulita hingga seseorang dipagi hari masih beriman sore harinya kafir dan sore masih beriman pagi harinya kafir, lantaran menjual agamanya dengan harta dunia.&#8221; (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه )</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku fillah&#8230;<span id="more-289"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berjejal dan bertumpuk-tumpuk fitnah di jalan kehidupan ini, terseok-seok manusia yang berusaha lurus, tanpa pelita ilmu tak mungkin manusia sampai kepada ridho dan Jannah Nya, shadaqa Rasulullah صلى الله عليه وسلم  dalam sabdanya:</p>
<h4 style="text-align:justify;">[[  مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِس فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّه لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة  ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barabgsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju Jannah.&#8221; (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa indahnya hidup ini dan kelak setelah mati biidznillah Ta&#8217;ala, bila anak kita menjadi anak shalih yang berilmu, do&#8217;a yang dipanjatkan untuk kedua orang tuanya menambah pahala dan ketinggian derajat mereka berdua di Jannah, amal shalih dan ilmunya yang bermanfaat pun mengalirkan pahala kepada bapak ibunya.</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">[[  إن أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإن ولده من كسبه  ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baik yang di makan manusia itu apa yang dia usahakan sendiri, dan sungguh anaknya termasuk usahanya.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa&#8217;i, dan Tirmidzi dari hadits Aisyah رضي الله عنها , shahih, dishahihkan Albani رحمه الله)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku fillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Atas limpahan karunia ini,  tentu kita wajib bersyukur kepada Allah Ta&#8217;ala, Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<h4 style="text-align:justify;">{{  فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ  }}</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Maka ingatlah Aku niscaya Aku mengingatmu dan bersyukurlah pada Ku dan jangan kufur.&#8221; (Al Baqarah :152)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam rangka bersyukur atas lahirnya anak kita dengan selamat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menuntunkan supaya kita menyembelih kambing yang disebut dengan &#8220;AQIQAH&#8221;</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">[[  مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى  ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Anak itu diiringi Aqiqah, maka alirkanlah darah karenanya dan singkirkan gangguan darinya.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>(HR. Bukhari dari hadits Salman bin Amir Ad Dhaby رضي الله عنه )</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Aisyah رضي الله عنها berkata:</strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">[[ <strong>أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمرهم عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة</strong> ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم  memerintahlkan mereka (Aqiqah) dua kambing untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Tirmidzi, hasan, dishahihkan oleh Albani رحمه الله mungkin dengan syahidnya).</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: </strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">[[ <strong>كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى</strong> ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>[[ Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya) dan di gundul serta diberi nama ]] </em></p>
<p style="text-align:justify;">HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dll dari hadits Samurah رضي الله عنه, shahih, dishahihkan Albani).</p>
<h3 style="text-align:justify;">WAJIBKAH AQIQAH ITU ???</h3>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits di atas nampaknya mewajibkan aqiqah, namun terdapat hadits yang mungkin dapat di jadikan dalil bahwa &#8220;aqiqah&#8221; itu sunnah dan tidak sampai wajib.</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></h4>
<h4 style="text-align:justify;">[[  من أحب منكم أن ينسك عن ولده فليفعل عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية  شاة  ]]</h4>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Siapa dari kamu yang suka menyembelih untuk anaknya hendaknya ia lakukan, untuk laki-laki dua kambing yang sepadan dan untuk perempuan satu.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, hakim Baihaqi dari hadits Abdullah bin Amr bin &#8216;Ash, hasan, berkata Albani :&#8221;hasan Shahih).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Al Imam Malik رحمه الله  berkata:</strong></p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong></strong><strong>(( </strong><strong></strong><strong>الْعَقِيقَةُ بِوَاجِبَةٍ وَلَكِنَّهَا يُسْتَحَبُّ  الْعَمَلُ بِهَا  وَهِىَ مِنَ الأَمْرِ الَّذِى لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ  النَّاسُ عِنْدَنَا</strong><strong></strong><strong> ))<br />
</strong></h4>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>&#8220;Aqiqah tidak wajib tetapi sunnah, dan ia termasuk satu hal uang senantiasa diamalkan oleh masyarakat disekeling kami.&#8221; (Muwatha&#8217;)</em><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sufyan Ats Tsauri berkata:</strong></p>
<h4 style="text-align:justify;">((  ليست العقيقة بواجبة وإن صنعت فحسن ))</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aqiqah itu tidak wajib namun bila dilaksanakan maka baik.&#8221; (Al Istidzkar)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berkata Ibnu Qudamah:</strong></p>
<h4 style="text-align:justify;">(( وقد دل على استحبابها الاجماع، قال أبو الزناد من أمر الناس كانوا يكرهون  تركه  ))</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dan telah menunjukkan atas kesunnahan AQIQAH adanya &#8220;IJMA&#8217; &#8220;, berkata Abu Zinad: &#8221; (Aqiqah) di antara amalan manusia yang mereka tidak suka meninggalkannya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(Asy Syarhul Kabir begitu pula dalam al Mughninya)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan Abu Zinad adalah seorang Imam dari generasi Shighor tabi&#8217;in.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berkata Ibnu Muflih:</strong></p>
<h4 style="text-align:justify;">((وهو &#8220;سنة مؤكدة&#8221; في قول الجمهور  ))</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ia sunnah muakkadah menurut JUMHUR&#8221; (Al Mubdi&#8217; Syarhul Muqni&#8217;)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berkata Syaikh Hamd bin Abdillah Al Hamd: </strong></p>
<h4 style="text-align:justify;">(( مذهب جمهور العلماء وهو المشهور عند الحنابلة أن العقيقة سنة وليست بواجبة  ))</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Madzhab Jumhur Ulama dan yang masyhur dalam madzhab Hanbali bahwa AQIQAH itu sunnah bukan wajib.&#8221; (Syarh zaadil mustaqni&#8217;)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berkata D. Hisamuddin &#8220;Afanah:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aqiqah sunnah muakkadah, ini adalah pendapat Jumhur Ulama baik dari Shahabat, Tabi&#8217;in, dan Para Fuqaha  Malikiyyah, SyaFi&#8217;iyyah, dan yang Masyhur dan sah dalam madzhab Hanbali, ini pula pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah&#8230;&#8221; (Al Mufassal Fi Ahkamil Aqiqah).</p>
<p style="text-align:justify;">Bersambung&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=289&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/17/aqiqah-sunnah-yang-hampir-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berwudhulah Atau Mandi ! Bila Anda Mau Mengulang Jima&#8217;</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/15/berwudhulah-atau-mandi-bila-anda-mau-mengulang-jima/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/15/berwudhulah-atau-mandi-bila-anda-mau-mengulang-jima/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 05:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wudhu Atau Mandilah Sebelum Mengulang Jima&#039;]]></category>
		<category><![CDATA[mandi afdhal]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah wudhu untuk mengulang jima']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah صلى الله عليه وسلم Bersabda: ((       إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضّأْ      )) &#8220;Bila salah seorang kamu mencampuri istrinya lalu ingin mengulanginya hendaknya ia berwudhu&#8221; (HR. Muslim dari Hadits Abu Said Al Khudri) Berkata Abu Rafi&#8217; Maula Nabi صلى االله عليه وسلم : أن النبيَّ &#8211; صلى الله عليه [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=286&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:center;">Rasulullah صلى الله عليه وسلم Bersabda:</h2>
<h2 style="text-align:center;">((       إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمّ   أَرَادَ أَنْ يَعُودَ   فَلْيَتَوَضّأْ      ))</h2>
<p style="text-align:center;">&#8220;Bila salah seorang kamu mencampuri istrinya lalu ingin mengulanginya hendaknya ia berwudhu&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">(HR. Muslim dari Hadits Abu Said Al Khudri)</p>
<h2 style="text-align:center;">Berkata Abu Rafi&#8217; Maula Nabi صلى االله عليه وسلم :</h2>
<h2 style="text-align:center;">أن النبيَّ &#8211; صلى الله عليه وسلم- طاف ذات يوم على نسائه ، يغتسل عند هذه ، وعند هذه ، قال : فقلت له : يا رسول الله ، ألا تجعله غسلاً واحداً آخراً ؟ قال : هذا أزكى وأطيب وأطهر</h2>
<p style="text-align:center;">&#8220;Nabi- صلى الله عليه وسلم &#8211; suatu hari menggilir istri-istrinya, beliau mandi saat di sini dan di sini, Aku bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah, mengapa Engkau tidak menjadikannya sekali mandi saat terakhir saja ? Beliau menjawab: Ini lebih baik, lebih bersih, dan lebih suci.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">(HR. Abu Dawud dan lainnya, dihasankan Albani)</p>
<h4 style="text-align:justify;">Berkata Syaikh Ibnul Utsaimin رحمه الله  dalam Syarah Bulughul Maramnya:</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Seseorang yang mencampuri istrinya dan ingin mengulangi hendaknya berwudhu diantara dua (Jima&#8217;) nya, hal itu dikarenakan (dua hal) :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Wudhu meringankan &#8220;janabahnya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Wudhu dapat memompa semangat, sebab manusia setelah jima&#8217; akan lesu, lemah, dan malas, bila ia berwudhu akan pulih kembali sisa-sisa semangatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dapat di ambil faedah pula dari hadits ini bahwa &#8220;agama islam&#8221; meliputi segenap mashlahat badan dan hati serta meliputi segenap urusan agama dan dunia&#8230;&#8221;.</p>
<h4 style="text-align:justify;">Berkata Ibnu Rajab Al Hanbali رحمه الله dalam &#8220;Fathul Bari&#8221; nya:</h4>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dan mayoritas Ulama mensunnahkan wudhu untuk megulang (jima&#8217;), pendapat ini diriwayatkan dari Umar dan lainnya, dan mayoritas tidak mewajibkannya, melainkan sedikit dari &#8220;Madzhab Dhahiri&#8221; dan yang sepaham dengan mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Namun mandi di antara dua jima&#8217; itu lebih &#8220;AFDHAL&#8221;, begitu dinyatakan oleh Ibnu Muflih dalam &#8220;Almubdi&#8217; Syarh Al Muqni&#8217; &#8221; dan Pemilik Kasyful Qina&#8217;, begitu pula Syaikh bin Baz dalam Fatawanya serta yang lain. (Bersambung)&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">
<h2 style="text-align:center;"></h2>
<p style="text-align:center;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=286&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/15/berwudhulah-atau-mandi-bila-anda-mau-mengulang-jima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyusun Jumlah Fi&#8217;liyyah</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/14/penyusun-jumlah-filiyyah/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/14/penyusun-jumlah-filiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 01:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyusun Jumlah Fi&#039;liyyah]]></category>
		<category><![CDATA[fa'il.naibul fa'il]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah fi'liyyah]]></category>
		<category><![CDATA[maf'ul bih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[الجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ PENYUSUN JUMLAH FI&#8217;LIYYAH Jumlah Fi&#8217;liyyah atau Jumlah yang di awali oleh kalimah fi&#8217;il boleh juga kita sebut sebagai Jumlah yang di awali &#8220;kata kerja / predikat&#8221;, dan &#8220;predikat / fi&#8217;il&#8221; dalam bahasa arab ada tiga macam: الفِعْلُ الْمَاضِي : Kata kerja lampau (telah) المُضَارِعُ : Kata kerja sedang / akan االفعلُ الأَمْرُ : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=278&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;">الجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ</h1>
<p style="text-align:center;"><strong>PENYUSUN JUMLAH FI&#8217;LIYYAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jumlah Fi&#8217;liyyah atau Jumlah yang di awali oleh kalimah fi&#8217;il boleh juga kita sebut sebagai Jumlah yang di awali &#8220;kata kerja / predikat&#8221;, dan &#8220;predikat / fi&#8217;il&#8221; dalam bahasa arab ada tiga macam:</p>
<h2 style="text-align:justify;">الفِعْلُ الْمَاضِي : Kata kerja lampau (telah)</h2>
<h2 style="text-align:justify;">المُضَارِعُ : Kata kerja sedang / akan</h2>
<h2 style="text-align:justify;">االفعلُ الأَمْرُ : Kata perintah</h2>
<p style="text-align:justify;">Dan anda telah memahami bila kata kerja itu pasti membutuhkan &#8220;pelaku pekerjaan&#8221; alias SUBJEK, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa &#8220;SUBJEK&#8221; merupakan penentu &#8220;JumlahFi&#8217;liyyah&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;SUBJEK&#8221; dalam bahasa arab di istilahkan dengan &#8220;FA&#8217;IL&#8221; (<strong>الفاعِلُ</strong>).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi Jumlah Fi&#8217;liyyah minimal terdiri dari FI&#8217;IL dan FA&#8217;IL /predikat dan subjek, dan terkadang butuh kepada objek / disebut dengan &#8220;MAF&#8217;Ul BIH&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Fa&#8217;il / subjek adalah penentu Jumlah Fi&#8217;liyyah dan setiap &#8220;penentu&#8221; sebuah jumlah, dia disandari  hukum atau <strong>المُسْنًدُ إِلَيْهِ</strong>, sehingga bila dia berhalangan hadir alias &#8220;MAJHUL&#8221; maka harus ada yang menggantikannya yang disebut dengan &#8220;NAIBUL FA&#8217;IL&#8221; (<strong>نائِبُ الْفَاعِلِ</strong>).</p>
<h3 style="text-align:justify;">Perhatikan contoh berikut:</h3>
<h2 style="text-align:justify;">جَلَسَ عَلِيٌّ : Ali telah duduk.</h2>
<h2 style="text-align:justify;">يَجْلِسُ عَلِيٌّ : Ali sedang / akan duduk.</h2>
<h2 style="text-align:justify;">اِجْلِسْ يَا عَلِيُّ : Duduklah hei Ali !</h2>
<p style="text-align:justify;">Jumlaا-Jumlah di atas tentu Jumlah fi&#8217;liyyah, sebab di awali oleh&#8230;kalimah fi&#8217;il.</p>
<h4 style="text-align:justify;">جَلَسَ; Fi&#8217;il Madhi.</h4>
<h4 style="text-align:justify;">يَجْلِسُ ; Fi&#8217;il Mudhari&#8217;.</h4>
<h4 style="text-align:justify;">اجْلِسْ ; Fi&#8217;il Amr.</h4>
<p style="text-align:justify;">Kalimah-kalimah fi&#8217;il di atas seluruhnya menyandari hukum &#8220;duduk&#8221; kepada kalimah <strong>عَلِيٌّ</strong>, dan Ali adalah &#8220;Fa&#8217;il / Subjek&#8221; (Rumus : <strong>ف</strong> ).</p>
<h3 style="text-align:justify;">Dan perhatikan yang ini:</h3>
<h2 style="text-align:justify;">ضُرِبَ عَلِيٌّ : Ali telah di pukul.</h2>
<h2 style="text-align:justify;">يُضْرَبُ عَلِيٌّ : Ali sedang / akan di pukul.</h2>
<p style="text-align:justify;">Jumlah di atas tentu jumlah &#8220;Fi&#8217;liyyah&#8221;, sebab di awali oleh kalimah Fi&#8217;il, yaitu &#8221; ضُرِبَ &#8221; dan &#8221; يُضْرَبُ&#8221; , dan kedua kalimah fi&#8217;il itu menyandari hukum &#8220;DIPUKUL&#8221; kepada &#8220;Ali&#8221; dan Ali disini sebagai pengganti &#8220;FA&#8217;IL&#8221;, yang asalnya adalah:</p>
<h2 style="text-align:justify;">ضَرَبَ فُلاَنٌ عَلِيًّا : Si Polan telah memukul Ali.</h2>
<h2 style="text-align:justify;">يَضْرِبُ فُلاَنٌ عَلِيًّا : Si Polan sedang / akan memukul Ali.</h2>
<p style="text-align:justify;">Jumlah di atas terdiri dari<em><strong> predikat-subjek-objek</strong></em>, &#8220;OBJEK&#8221; dalam bahasa arab disebut dengan &#8220;Maf&#8217;ul bih&#8221; ( <strong>المَفْعُولُ بِهِ </strong>), saat fa&#8217;il ada yaitu &#8220;POLAN&#8221;,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;ALI&#8221; jadi OBJEK, namun setelah &#8220;POLAN&#8221; tidak ada maka &#8220;ALI&#8221; jadi &#8220;PENGGANTI FAIL&#8221; atau &#8221; <strong>نَائِبُ الْفَاعِلِ</strong> &#8220;.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang anda lihat, pengganti fa&#8217;il / <strong>نَائِبُ الْفَاعِلِ</strong> mengandung makna &#8220;Maf&#8217;ul bih&#8221;, sebab semula dia sebagai &#8220;maf&#8217;ul bih&#8221; yaitu ketika ada &#8220;FA&#8217;il&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">NAIBUL FA&#8217;IL RUMUSNYA : <strong>نب</strong></p>
<h4 style="text-align:justify;">Sebagai pengingat:</h4>
<p style="text-align:justify;">Pada pembahasan tanda-tanda kalimah isim saya sebutkan bahwa tanda isim yang paling penting ialah &#8221; <strong>الإسْنَادُ إلَيْهِ</strong> &#8221; atau &#8220;disandari hukum&#8221;, maka dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa &#8220;FA&#8217;IL&#8221; dalam jumlah fi&#8217;liyyah adalah kalimah &#8220;ISIM&#8221;, begitu pula &#8220;MUBTADA&#8221; dalam jumlah ismiyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi ada kesamaan fungsi antara Fa&#8217;il dalam jumlah fi&#8217;liyyah dan Mubtada&#8217; dalam jumlah ismiyyah, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Sama-sama disandari hukum atau &#8220;<strong> المسند إليه</strong> &#8220;.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Sama-sama sebagai penentu jumlah, fail penentu jumlah fi&#8217;liyyah dan mubtada&#8217; penentu jumlah ismiyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Sama-sama kalimah isim dengan ciri-ciri yang sama pula yaitu &#8220;<strong>الإسْنَادُ إلَيْهِ</strong>&#8220;</p>
<h3 style="text-align:justify;">Soal:</h3>
<h4 style="text-align:justify;">1. Apa yang disebut dengan FA&#8217;IL ?</h4>
<h4 style="text-align:justify;">2. Apa yang di sebut dengan FI&#8217;IL ?</h4>
<h4 style="text-align:justify;">3. Apa yang di sebut dengan NAIBUL FA&#8217;IL ?</h4>
<h4 style="text-align:justify;">4. Apa yang di sebut dengan MAF&#8217;UL BIH ?</h4>
<p style="text-align:justify;"><strong>Silahkan anda berbingung ria&#8230;berbingung-bingung dahulu berfaham-faham kemudian&#8230;hhmmm.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=278&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/14/penyusun-jumlah-filiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Yang Tidak Dimasuki Malaikat Rahmah</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/13/rumah-yang-tidak-dimasuki-malaikat-rahmah/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/13/rumah-yang-tidak-dimasuki-malaikat-rahmah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 06:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Yang Teramat Buruk]]></category>
		<category><![CDATA[anjing & gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat rahmah.Malaikat Hafadzah]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ &#8220;Malaikat Tidak masuk rumah yang terdapat anjing dan gambar makhluq bernyawa di dalamnya&#8221;. (Muttafaq &#8216;Alaih dari hadits Abu Tholhah, lafadz milik Bukhori) Abdullah bin Abbas رضي الله عنه berkata: يُرِيدُ التَّمَاثِيلَ الَّتِي فِيهَا الْأَرْوَاحُ &#8220;Yang dimaksud adalah patung/ gambar bernyawa&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=270&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></p>
<h2 style="text-align:center;"><strong>لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ</strong></h2>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8220;Malaikat Tidak masuk rumah yang terdapat anjing dan gambar makhluq bernyawa di dalamnya&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(Muttafaq &#8216;Alaih dari hadits Abu Tholhah, lafadz milik Bukhori)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Abdullah bin Abbas رضي الله عنه berkata:</strong></p>
<h2 style="text-align:center;"><strong>يُرِيدُ التَّمَاثِيلَ الَّتِي فِيهَا الْأَرْوَاحُ</strong></h2>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8220;Yang dimaksud adalah patung/ gambar bernyawa&#8221;</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>( AlBukhari)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Utsaimin رحمه الله berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;Bagaimana pendapatmu dengan rumah yang tidak dimasuki malaikat ? Sungguh itu rumah yang buruk&#8230;(Syarh Ar Riyadh).</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Abdul Muhsin حفظه الله berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;</strong>Malaikat yang dimaksud ialah &#8220;Malikat Rahmah&#8221;, adapun Malaikat yang di utus mencatat amal, mereka selalu bersama manusia, hal yang terdapat dalam hadits ini  tidak menghalangi mereka untuk selalu menyertai manusia, dan di dalam hadits ini mengandung peringatan supaya jangan terjatuh dalam perkara-perkara (haram) ini&#8230;, dan anjing dikecualikan daripadanya anjing-anjing yang diizinkan, yaitu anjing untuk berburu, penunggu tanaman, atau anjing penunggu hewan ternak&#8230;, dan gambar yang di maksud ialah gambar makhluq bernyawa, baik berbentuk patung/relief maupun berbentuk gambar/lukisan&#8230;&#8221;(Syarh Abu Dawud).</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Al Mubarak Furi pemilik kitab &#8220;Tuhfatul Ahwadzi&#8221;:<span id="more-270"></span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;((Malaikat tidak masuk)) yang dimaksud ialah Malaikat &#8220;RAHMAH&#8221;, bukan Malikat &#8220;HAFADZAH&#8221; (Yang senantiasa menyertai kita dan mencatat segala perilaku kita) dan bukan malaikat &#8220;MAUT&#8221; (Yang bertugas mencabut nyawa).</p>
<p style="text-align:justify;">((RUMAH)), yang di maksud ialah tempat tinggal.</p>
<p style="text-align:justify;">((ANJING)), kecuali anjing untuk berburu, penjaga ternak dan kebun, ada yang berpendapat &#8220;Anjing-anjing itu menghalangi juga, meskipun memeliharanya tidak terlarang&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">((GAMBAR TAMATSIL)), yang dimaksud ialah &#8220;gambar&#8221; seperti dalam &#8220;Al QOMUSH&#8221; dan lainnya, artinya &#8220;gambar manusia dan binatang&#8221;, berkata An Nawawi:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Para Ulama berkata: Penyebab tidak masuknya &#8220;Malaikat&#8221; ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar ialah karena &#8220;GAMBAR&#8221; (makhluq bernyawa) itu merupakan perbuatan ma&#8217;siat yang teramat keji, dan menandingi ciptaan Allah Ta&#8217;ala, sebagian lagi disembah, dan sebab tidak masuknya karena &#8220;ANJING&#8221;  anjing itu banyak makan najis, sebagian anjing ada yang dinamakan &#8220;SYETHAN&#8221; seperti dalam sebuah hadits (udah di bahas oleh penukil dalam blog ini), sementara Malaikat itu lawannaya Syethan, dan oleh karena bau &#8220;anjing&#8221; itu busuk, sementara Malaikat tidak menyenangi bau busuk, juga karena memelihara &#8220;anjing&#8221; terlarang (udah dibahas juga), maka pemeliharanya dihukum dengan tidak masuk Malaikat ke dalam rumahnya, tidak shalat di dalamnya, tidak memintakan ampunan, tidak memohonkan barokah, dan tidak pula melindungi (penghuni rumah) dari gangguan Syetan, Malikat-Malaikat yang tidak mau masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar ialah Malaikat Rahmah, Yang memohonkan Barakah dan pengampunan, adapun Malikat &#8220;Hafadzah&#8221;, mereka masuk ke setiap rumah dan tidak pernah berpisah dengan Bani Adam dalam setiap keadaan, sebab mereka di perintah untuk meliput segenap amalan (Bani Adam) dan menulisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Al Khothobi: &#8220;Malaikat hanya tidak mau masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar yang haram, adapun anjing yang tidak haram seperti anjing untuk berburu, penjaga kebun dan ternak dan gambar yang dihinakan seperti yang terdapat pada hamparan / tikar dan bantal serta lainnya maka tidak lah menghalangi masuknya Malaikat, Al Qodhi juga mengisyaratkan seperti yang dinyatakan oleh Al Khothobi, dan yang lebih tepat (ini Pendapat An Nawawi) mencakup seluruh jenis anjing dan gambar berdasarkan mutlaqnya berbagai hadits, dan oleh sebab &#8220;ANAK ANJING&#8221; yang di rumah Nabi صلى الله عليه وسلم yang terdapat di bawah ranjang itu &#8220;tidak nampak&#8221;, beliau tidak mengetahui  ada anak anjing (di dalam rumahnya), namun ternyata Jibril tidak mau masuk rumah dengan alasan &#8220;ANAK ANJING&#8221; itu, maka seandainya ada gambar dan anjing yang tidak menghalangi masuknya &#8220;Malaikat&#8221; niscaya Jibril pun tidak terhalang.&#8221; (Tuhfah)</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Patung di potong kepalanya supaya seperti pohon, gambar di kain di potong dijadikan dua bantal, dan anjing di usir dari rumah.</strong></h4>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>أتاني جبريل فقال : إني كنت أتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون دخلت عليك البيت الذي كنت فيه إلا أنه كان على الباب تماثيل و كان في البيت قرام ستر فيه تماثيل و كان في البيت كلب فمر برأس التمثال الذي في البيت فليقطع فيصير كهيئة الشجرة و مر بالستر فليقطع فيجعل وسادتين منبذتين توطئان و مر بالكلب فليخرج </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>&#8220;Jibril mendatangiku lalu berkata: &#8220;Sesungguhnya aku datang kepadamu semalam dan tidak ada yang menghalangiku memasuki rumahmu melainkan di atas pintu ada beberapa patung, di dalam rumah ada kain tipis bergambar, serta ada anjing, maka perintahkan  patung itu di potong kepalanya supaya menjadi seperti bentuk pohon dan perintahkan kain tipis penutup (dinding) itu dipotong lalu di jadikan dua bantal yang di sandari dan perintahkan dengan anjing supaya di keluarkan.&#8221; (HR&gt; Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi dll, dishahihkan Albani dalam shahihul jami&#8217;)</strong></em></p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam &#8220;Syarhul &#8216;Umdah&#8221;:</strong></h4>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>&#8220;Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar baik di kain penutup, pakaian, dan yang lain, yang diberi keringanan ialah &#8220;gambar yang di injak (di hinakan) seperti hadits aisyah.&#8221;</em><br />
</strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>FAEDAH:</strong></h3>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;Saya pernah mendengar beliau (Gurunya Syaikhul Islam) berkata perihal Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;</strong><strong> لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا صورة </strong><strong> &#8220;</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar&#8221;, </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Bila Malaikat yang mereka adalah makhluq  terhalangi oleh anjing dan gambar dari memasuki rumah, maka akankah masuk ma&#8217;rifatullah (mengenal Allah) Azza wa Jalla, Cinta kepadaNya, Manisnya Dzikir kepadaNya, serta senang mendekat kepadaNya di dalam hati yang dipenuhi oleh anjing-anjing Syahwat dan gambar-gambar syahwat&#8230;&#8221;</em><strong>(Tafsir Ibnul Qoyyim).<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=270&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/13/rumah-yang-tidak-dimasuki-malaikat-rahmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khobar Penyempurna Jumlah Ismiyyah</title>
		<link>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/13/khobar-penyempurna-jumlah-ismiyyah/</link>
		<comments>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/13/khobar-penyempurna-jumlah-ismiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 02:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almubaarakah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khobar Penyempurna Jumlah Ismiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah ismiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Khobar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubaarakah.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Khobar Penyempurna Jumlah Ismiyyah Telah saya singgung sebelumnya, bahwa khobar (Rumus: خ) berfungsi sebagai &#8220;pemberi / penyandar hukum kepada mubtada&#8217; (Rumus: م), seperti menyandarkan hukum &#8220;berdiri&#8221; kepada &#8220;Muhammad&#8221; pada contoh: مُحَمَّدٌ قَائِمٌ : Muhammad berdiri. Kalimah &#8220;محمد&#8221; adalah mubtada (م) dan &#8220;قَائِمٌ &#8220; khobar (خ) Coba anda perhatikan, andaikan tanpa kalimah &#8220;قَائِمٌ&#8221; apa jadinya ? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=266&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:center;">Khobar Penyempurna Jumlah Ismiyyah</h2>
<p style="text-align:justify;">Telah saya singgung sebelumnya, bahwa khobar (Rumus:<strong> خ</strong>) berfungsi sebagai &#8220;pemberi / penyandar hukum kepada mubtada&#8217; (Rumus: <strong>م</strong>), seperti menyandarkan hukum &#8220;berdiri&#8221; kepada &#8220;Muhammad&#8221; pada contoh:</p>
<h2 style="text-align:justify;">مُحَمَّدٌ قَائِمٌ : Muhammad berdiri.</h2>
<p>Kalimah <strong>&#8220;محمد&#8221;</strong> adalah mubtada (م) dan <strong>&#8220;قَائِمٌ &#8220;</strong> khobar (خ)</p>
<p>Coba anda perhatikan, andaikan tanpa kalimah <strong>&#8220;قَائِمٌ&#8221;</strong> apa jadinya ? Pasti kita menanti, hukum apa yang akan mengenai muhammad ? Artinya ada apa dengan &#8220;Muhammad&#8221; ? Sakit, sehat, makan, minum, atau apa ? Nah, setelah datangnya &#8220;Khabar&#8221; yaitu <strong>&#8220;قَائِمٌ&#8221; </strong>kita mengetahui keberadaan Muhammad.</p>
<p>Jadi tidak sempurna &#8220;JUMLAH ISMIYYAH&#8221; tanpa &#8220;KHOBAR&#8221;.</p>
<p>Bwgitu pula dengan contoh berikut:</p>
<h2>هَذَا كَلْبٌ : Ini Anjing.</h2>
<p>Ini jumlah apa ? Tentu  jumlah ismiyyah, sebab didahului oleh kalimah isim هَذَا , perhatikahlah bila kalimah &#8220;كلب&#8221; di tiadakan, bukankah kita masih belum mengetahui &#8220;ini&#8221; sebetulnya apa? Artinya kalimah هذا butuh pemberi hukum / berita tentang dia, dan setelah datang khobar yaitu &#8220;كلب&#8221; kita mengetahui siapa yang dimaksud dengan &#8220;ini&#8221;, yaitu : &#8220;Ini adalah anjing&#8221;.</p>
<p>Keterangan:</p>
<p><strong>هَذَا</strong> : Isim Isyarah untuk tunggal laki-laki jarak dekat (ini).</p>
<p>Akhirnya kita bisa tarik kesimpulan bahwa &#8220;JUMLAH ISMIYYAH&#8221; pada dasarnya terdiri dari &#8220;MUBTADA&#8221; dan &#8220;KHOBAR&#8221;, mubtada&#8217; isim yang disandari hukum dan khobar segala yang menyempurnakan jumlah ismiyyah bersama mubtada&#8217; dan menyandari hukum kepada mubtada&#8217;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almubaarakah.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almubaarakah.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almubaarakah.wordpress.com&amp;blog=12175009&amp;post=266&amp;subd=almubaarakah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubaarakah.wordpress.com/2010/04/13/khobar-penyempurna-jumlah-ismiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff38452692aa556aeeb5a68d5c86ed9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almubaarakah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
